Jumat, 27 Juli 2012


YOREL.jpg 


















http//www.worelweni.com

2.jpgBAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Gastritis adalah suatu istilah kedokteran untuk suatu keadaan inflamasi jaringan mukosa (jaringan lunak) lambung. Gastritisd atau yang lebih dikenal dengan magh berasal dari bahasa yunani yatiu gastro yang berarti perut atau lambung dan itits yang berarti inflamasi atau peradangan. Gastritis bukan berarti penyakit tunggal, tetapi berbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung.
(Refelina Widja, 2009).

Akhir-akhir ini peningkatan meningkat sangat pesat. Hal tersebut dikarnakan pola hidup yang bebas hingga berdampak pada kesehatan tubuh.
Badan penelitian kesehatan WHO mengadakan tinjauan terhadap 8 negara dunia dan mendapatkan beberapa hasil persentase dari angka kejasian gastritis di dunia, dimualai dari Negara yang angka kejadian gastritisnya paling tinggi yaitu Amerika dengan persentase  mencapai 47% kemudian diikuti oleh India dengan persentase 43%, lalu beberapa Negara lainnya seperti Inggris 22%, China 31%, Jepsng 14,5%, Kanada 35%, Perancis 29,5%, dan Indonesia 40,8%. Gastritis biasa dianggap sebagai suatu hal yang remeh namun gastritis merupakan awal dari  seuah penyakit yang dapat menyusahkan kita.
Di Indonesia angka kejadian gastritis cukup tinggi. Dari penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh depertemen kesahatan RI angka kejadian gastritis di bebrapa kota di Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu di kota Medan, lalu di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%, Denpasar 46%, Jakarta 50%, Banduung 32,5%, Palembang 35,3%, Aceh 31,7% dan Pontianak 31,2%. Hal tersebut disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat.
(Bayu Media, 2009)

Dalam penatalaksanaan diet terhaddap penderita gastritis selalu diperhatikan jenis diet, tujuan diet, dan syarat diet yang diberikan oleh pasien secara garis besarnya diberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein guna mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh atau untuk mencapai berat badan pasien dengan status yang optimal.
(Aniun Hidayah, 2011)

B.                 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam judul ini adalah :
Penyakit gastritis atau yang dikenal dengan istilah gangguan pada saluran pencernaan merupakan salah satu penyakit yang sering di alami masyarakat Indonesia.

C.                Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah :
a)                  Tujuan umum
Untuk mengetahui penatalaksanaan diet pada penderita gastritis
b)                   Tujuan khusus

1.                     Kajian gizi
Untuk mengumpulkan masalah gizi pada pasien atau klien untuk mengidentifikasikan informasi yang terkait dengan masalah gizi dan penyebabnya.
2.                     Diagnose
Agar dapat memperoleh gambaran tentang bagaimana cara mendiagnosa penyakit gastritis berdasarkan diagnose medis dan diagnose gizi
3.                     Terapi
Agar dapat mengetahui bagaimana mengintervensi penyakit gastritis untuk proses penyembuan melalui terapi gizi dan terapi medis.
4.                     Monitoring Evaluasi
Untuk mengetahui jumla kemajuan yang telah dicapai oleh pasien atau klien relevan dengan hasil diagnose, rencana dan tujuan intervensi gizi.

D.                Manfaat Penelitian
a)                  Diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca dalam pelaksanaan asuhan gizi pada penderita penyakit gastritis.
b)                  Diharapkan dapat memperkaya khasana pengetahuan dan sebagai bahan bacaan bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

E.                 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode studi pustaka, yaitu suatu cara yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan data atau informasi dan literature yang erat hubungannya dengan pokok bahasan makalah ini.


BAB II
TINAJAUAN PUSTAKA

A.                Tinjauan Umum Tentang Pentalaksanaan Diet

1.                  Definisi
Diet adalah pemberian makanan terhadap seseorang atau lebih yang sesuai dengan kebutuhan normal dengan tujuan mengobati penyakit dan komplikasi yang ada.
Dampak gizi terhadap kesehatan seseorang telah banyak diketahui asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan, baik kelebihan maupun kekurangan zat gizi erat kaitannya dengan peningkatan resiko penyakiit maupun komplikasinya. Kelebihan gizi beresiko terhadap penyakit maupun komplikasinya. Kelebihan gizi beresiko terhadap timbulnya penyakit degenerative, sementara kurang gizi berdampak terhadap timbulnya penyakit infeksi, lamanya penyembuhan dan lamanya hari rawat. Namun kondisi tersebut dapat diatasi dengan pemberian dukungan gizi yang tepat melalui pelayanan asuhan gizi yang berkualitas.
Untuk mencapai hasil sebaik mungkin, rancangan diet, edukasi dan konseling yang tepat sesuai dengan masalah dan kebutuhan gizi klien yang terdokumentasi merupakan bentuk pelayanan yang berkualitas dari asuhan gizi. Hasil asuhan gizi dapat diprediksi dan dan tidak bisa dapat dicapai bila dietesien menggunakan proses asuhan gizi yang terstandar.
Sejak tahun 2003 American Dietetic Association (ADA) menyususn Standardized Nutreition Care Prosess (SNCP).  Prosees ini merupakan suatu proses terstandar, bukan asuhan terstandar.
Tujuan SNCP ini agar dietesien dapat memberikan pelayanan asuhan gizi yang berkualitas tinggi, aman, efektif serta hal yang dicapai dapat diberikan dan lebih terarah. Pada tahun 2006, AsDI mulai mengenalkan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) yang diadopsi dari NCP-ADA tersebut di atas.
Sebelum tahun 2006 asuhan gizi dilakukan beragam oleh dietesien berdasarkan asuhan terstandar yang berbentuk pedoman atau penunutun diet. Sasaran asuhan ini adalah diagnosis   medis sehingga hasil asuhan gizi menjadi beragam dan efektifitasnya kurang terlihat jelas. Perbedaan mendasar antara PAGT dan asuhan gizi sebelumnya, terletak pada diagnosis gizi.
Proses Asuhan Gizi Terstandar menjadi suatu proses terstandar dalam memberikan asuhan gizi bagi klien untuk meningkatkan konsistensi dan kualitas asuhan.
Proses Asuhan Gizi Tesrtandar  terdiri atas 4 langkah sistematis, mulai dari pengkajian gizi(Nutrition Assesment), Diagnosa gizi (Nutrition Diagnosis), Intervensi Gizi (Nutrition Intervention), dan Monitoring dan Evaluasi Gizi (Nutrition Monitoring and Evalution).
Dengan demikian, jika metode pemecahan massalah yang sistematis ini dilakukan secara konsisten, PAGT dapat meningkat profesionalisme dietesien secara efektif sebagai pemberi pelayanan asuhan gizi, melalui cara berpikir dan membuat keputusan secara kritis  dalam upaya menangani masalah gizi, sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang berkualitas, aman dan efektif.
Meskipun PAGT pada intinya diterapkan di rumah sakit, puskesmas dan klinik (baik rawat inap maupun rawat jalan), namun prosees ini dapat juga diterapkan pada lingkungan komunitas yang lebih luas.
Di dalam masyarakt, PAGT dapat digunakan oleh dietesien untuk memberikan asuhan gizi bai pada individu ataupun kelompok.
Proses ini juga dapat digunakan pada berbagai program untuk tujuan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.

a)                  Pentingnya proses asuhan gizi terstandar
Proses asuhan gizi terstandar disusun sebagai upaya peningkatan kualitas pemberian asuhan gizi. Menuurut National Academy of Science’s (NAS)-Institute of Medicine (IOM), kualitas pelayanan adalah tingkatan pelayanan kesehatan untuk indifidu dan populasi yang mengarah pada tercapainya hasil kesehatan yang diinginkan, sesuai pengetahuan profesional mutakhir.
Proses asuhan gizi terstandar adalah strutur dan kerangka yang konsisten yang digunakan untuk memberikan asuhan gizi dan menunjukan bagaimana asuhan gizi dilakukan. Prosees tersebut mendukung dan mengarah pada asuhan gizi secara individual. Sementara asuhan terstandar menunjukan asuhan yang sama pada semua pasien.
Dalam pengembangan SNCP, ADA menyusun suatu model asuhan gizi yang mencerminkan konsep-konsep kunci dari setiap langkah proses asuhan gizi. Hubungan antara dietesien dangan pasien/klien menjadi focus dari model tersebut. Model ini juga mengidentifikasi berbagai factor lain yang mempengaruhi proses dan kualitas asuhan gizi.

b)                  Model Asuhan Gizi
Model asuhan gizi di Indonesia saat ini mengacu pada model yang dikembangkan oleh ADA. Model ini mencerminkan langkah kunci PAGT, factor-faktor yang berperan, dan bagaimana factor-faktor tersebut saling bersinggungan, bergantung dan bergerak secara dinamis untuk memberikan asuhan gizi yang berkualitas.
Gambar 1 menunjukan area faktor-faktor tersebut.
·                     Lingkaran tengah menggambarkan hubungan antara dietesien dengan klien atau pasien.
·                     Kotak terdalam merupakan langkah-langkah asuhan gizi
·                     Kotak tengah menggambarkan kekuatan dan kemampuan praktisi dietetic yang mendasari pelaksanaan PAGT
·                     Kotak terluar adalah factor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses asuhan gizi berlangsung.
·                     Focus utama dalam model ini adalah hubungan antara klien atau pasien dengan dietesien. Kunci keberhasilan pelayanan asuhan gizi terpusat pada huungan ini, yaitu bagaimana dietesien dapat berkolaborasi dengan klien/pasien, memberikan pelayanan yang terfokus pada klien/pasien melalui pendekatan individu.
Kualitas hubungan antara dietesien dank lien dipengaruhi oleh :
·                     Pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya oleh klien/pasien/kelompok dan kesiapan mereka untuk merubah.
·                     Tingkat pendidikan dan pelatihan yang dimiliki seorang dietesien yang menunjang pengetahuan dan ketrampilannya dalam mengembangkan kemampuan berkomunikasi atau melakukan hubungan antara personal seperti mendengarkan, empati, melatih dan memberikan motivasi.





Gambar 1. Model Asuhan Gizi Dan Proses Asuhan Gizi Terstandar
vvvv.jpg
Adapts Dari Lacey, K And Prichett, E Ntrition Care Process and Model :
ADA adopts road map to quality care and outcomes management, journal of American Dietetic Association, 2003.
Kotak terdalam menggambarkan kemampuan dietesien dalam menerapkan PAGT, berdasarkan 4 langkah yang berkesinambungan yaitu pengkajian gizi, diagnose gizi, intervensi gizi, sampai monitoring dan evaluasi gizi.
Kotak tengah memperlihatkan kompetensi yang memperlihatkan kompetensi yang unik dari seorang dietesien dalam menerapkan PAGT. Kompetensi tersebut meliputi pengetahuan dan ketrampilan dietetic agar dietesien mengembangkan kapasitasnya untuk berpikir, berkolaborasi dan berkomunikasi fakta-fakta dan      kode etik profesi.
Kotak terluar menunjukan factor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan klien/pasien/kelompok untuk menerima dan memperoleh manfaat dari intervensi asuhan gizi.
Factor lingkungan tersebut antara lain :
·                     Tempat pelayanan asuhan gizi
·                     System pelayanan kesehatan yang menunjang pelayanan asuhan gizi
·                     Ekonomi dan system social yang ada

c)                  Proses Asuhan Gizi Terstandar
Menurut American dietetic Association (2006), PAGT adalah suatu metode pemecahan masalah yang sistematis, di mana dietewsien professional menggunakan cara berpikir kritisnya dalam membuat keputusan untuk menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman, efektif dan berkualitas tinggi.
Proses asuhan gizi terstandar merupakan siklus yang terdiri dari 4 langkah yang berurutan dan saling berkaitan yaitu :
·                     Pengkajian gizi
·                     Diagnose gizi
·                     Intervensi gizi
·                     Monitoring dan evaluasi
Proses di atas hanya dilakukan pada pasien/klien yang teridentifikasi resiko gizi atau sudah malnutrisi dan membutuhkan dukungan gizi individual. Identifikasi resiko gizi dilakukan melalui skrining/penapisan gizi, di mana metodenya tergantung dari kondisi dan fasilitas setempat. Subjektive Global Assessment (SGA) dan malnutrisi universal screening Tools (MUST). NRS-2000. Merupakan contoh metode skrining yang dapat digunakan.
Kegiatan dalam PAGT diawalai dengan melakukan pengkajian gizi lebih mendalam.  Bila masalah gizi yang spesifik telah ditemukan, maka dari data obyektif dan subjektif pengkajian gizi dapat ditentukan penyebab, derajat serta area masalahnya.  Berdasarkan fakta tersebut ditegakkan diagnose gizi. Selanjutnya disusun rencana intervensi gizi untuk dilaksanakan berdasarkan diagnose gizi.  Monitoring dan evaluasi dilakukan setelahnya untuk mengamati perkembangan dan respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. Bila tujuan tercapai maka proses ini dihentikan, namun bila tujuan tidak tercapai atau tujuan awal tercapai tetapi terdapat masalah gizi yang baru, maka proses berulang kembali mulai dari pengkajian gizi. Siklus asuhan gizi ini terus berulang sampai pasien/klien tidak membutuhkannya lagi. (gambar 2).
Pada buku pelayanan gizi rumah sakit (PGRS) yang dikeluarkan oleh depertemen kesehatan RI tahun 2003 dan revisinya tahun 2005, disebutkan bahwa tahapan prosees asuhan gizi (PAGT) adalah :
·                     Pengkajian gizi
·                     Perencanaan gizi (intervensi gizi)
·                     Implementasi gizi
·                     Monitoring dan evaluasi
Dengan demikian perbedaan antara PAGT dengan PAG pada buku pedoman Dep Kes terletak pada langkah ke dua yaitu diagnose gizi. Disamping itu, langkah intervensi pada PAGT mencakup langkah perencanaan dan implementasi dari PAG dalam buku pedoman PGRS tersebut.
Presentation2ab.jpgGambar 2. Alur Dan Proses Asuhan Gizi







Beberapa kata kunci yang perlu dipahami dalam pengertian PAGT adalah :
Proses : yaitu seerangkaian langkah atau tinddakan yang berkaitan untuk
mencapai suatu hasil, atau kumpulan aktifitas yang merubah input menjadi suatu
output.
Pendekatan Proses :  adalah identifikasi dan pengaturan berbagai kegiatan secara sistematis dan interaktif dari berbagai aktifitas.
Pendekatan prosees menekankan pada pentingnya :
·                     Pemahaman atas kebutuhan dan pemenuhannya
·                     Penentuan apakah proses ini dapat memberikan nilai tambah
·                     Penentuan untuk kerja proses dan efektifitasnya
·                     Penggunaan ukuran yang obyektif untuk berkaitan, berkelanjutan dari proses tersebut.
Berpikir kritis : yaitu kemampuan menganalisis masalah, merumuskan dan mengevaluasi soslusi dengan mengintegrasikan fakta, opini, menjadi pendengar aktif dan melakukan pengamatan karakteristik berpikir kritis meliputi :
·                     Berpikir konseptual
·                     Berpikir rasional
·                     Berpikir kreatif
·                     Memiliki keinginan untuk tahu lebih dalam
·                     Berpikir mandiri
Membuat keputusan : yaitu proses kritis dalam memilih tindakan terbaik untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Memecahkan masalah : yaitu proses yang terdiri dari identifikasi masalah, formulasi pemecahan masalah, implementasi dan evaluasi hasil.
Kolaborasi : yaitu proses di mana beberapa individu/kelompok  dengan kepentingan yang sama bergabung untuk menangani masalah yang teridentifikasi.

2.                  Kajian Gizi
Pengkajian gizi merupakan kegiatan mengumpulkan, mengintegrasikan dan menganalisis data untuk identifikasi masalah gizi yang terkait dengan aspek asupan zat gizi dan makanan, aspek klinis dan aspek perilaku-lingkungan serta penyebabnya.
Langkah pertama PAGT ini merupakan proses yang dinamis, berkelanjutan, bukan hanya pengumpulan data awal tetapi juga merupakan pengkajian dan analisis ulang kebutuhan pasien.
Langkah ini merupakan dasar untuk menegakan diaknosa gizi.
Pada tahap ini diperlukan berfikir kritis dietesien untuk :
·                      Menetapkan dan mengumpulkan sumber data dan instrument yang sesuai
·                     Membedakan data yang relevan dan tidak
·                     Memilih norma yang standar yang sesuai untuk membandingkan data tersebut
·                     Mengorganisasikan dan mengkategorikan data agar teridentifikasi masalah gizi
Data yang dikumpulkan terkait masalah gizi. Data ini bervariasi tergantung pada :
·                     Situasi dan kondisi tempat data dikumpulkan
·                     Kondisi kesehatan terkini dari pasien/klien dan kelompok
·                     Kaitan data yang dikumpulkan dengan dampak yang akan diukur
·                     Prosedur yang dianjurkan
·                     Apakah data merupakan pengkajian awal atau pengkajian ulang
Informasi yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan standar baku/nilai normal, sehingga dapat dikaji dan diidentifikasi beberapa besar kegawatan masalahnya.
Data individual dapat diperoleh langsung dari pasien/klien melalui wawancara, observasi, dan pengukuran; dan atau melalui petugas kesehatan lain  atau institusi merujuk, rekan medis atau hasil pemeriksaan laboratorium. Sementara untuk data kelompok (masyarakat) diperoleh melalui survey, berkas data atmistrasi, serta data penelitian dan data epidemologi.

a)                   Pengelompokan data
Untuk mengidentifikasi masalah gizi, data pengkajian gizi terdapat 5 kelompok yaitu:
Riwayat gizi/makanan ;

·                     Riwayat gizi/makanan
Pengumpulan dan pengkaian data riwayat gizi meliputi asupan makanan, kepedulian terhadap gizi dan kesehatan serta pengelolaannya, aktifitas fizik, dan kesediaan makanan, seperti tertera pada tabelberikut.






Tabel 1. Aspek-aspek yang yang dikaji dalam riwayat gizi




Asupan Makanan
·   Komposisi dan kecukupan gizi
·   Pola makan termasuk makanan selingan
·   Suasana saat makan
·   Daya terima terhadap makanan/zat gizi
·   Diet yang sedang dijalani




Kesadaran Terhadap Gizi Dan Kesehatan

·   Pengetahuan dan kepercayaan terhadap  rekomendasi diet
·   Kemandirian pelaksanaan diet
·   Edukasi dan konseling gizi yang sudah didapat pada masa lalu


Aktifitas fisik
·   Pola kegiatan sehari-hari
·   Waktu yang dihabiskan untuk bersantai
·   Intensitas, frekuensi dan lamanya melakukan olah raga



Ketersediaan makanan
·   Kemampuan merencanakan menu
·   Daya beli
·   Kemampuan atau keterbatasan menyiapkan makanan
·   Pemelihan makanan, sanitasi dan hyegine makanan
·   Pemanfaatan program makanan
·   Ketidakamanan makanan/pangan
·                     Data Biokimia Pemeriksaan Dan Prosedur Medis
Data yang dikumpulkan dan dinilai merupakan data biokimia, pemeriksaan maupun prosedur medis yang berkaitan dengan status gizi, status metabolic dan gambaran fungsi organ yang dapat mempengaruhi terhadap timbulnya masalah gizi.
Sebagai contoh : nilai elektrolit, glukosa, lemak dan pengosongan lambung.

·                     Data antropometri
Data antropometri merupakan hasil pengukuran fisik pada indifidu. Pengukuran yang umum dilakukan antara lain tinggi badan (TB), berat badan (BB), tinggi lutut (TL), lingkar lengan atas (LILA), tebal lemak, lingkar pinggang, lingkar panggul dan sebagainya. Kecepatan pertumbuhan dan kecepatan perubahan berat badan juga termasuk data yang dinilai.

·                     Pemeriksaan fisik dan klinis
Pengkajian gizi dalam aspek klinis meliputi kondisi kesehatan gigi dan mulut; penampilan fisik secara umum.
Contoh : tampak kurus, pengerutan otot, dan penurunan lemak subkutan merupakan kondisi-kondisi yang menggambarkan tanda kurang gizi.

·                     Riwayat personal pasien
Riwayat personal pasien meliputi 4 area, yaitu riwayat obat-obatan dansuplemen yang dikonsumsi, sisial budaya, riwayat penyakit, dan data umum pasien. Tabel 2 menunjukan aspek-aspek terkait dalam riwayat personal.
Tabel 2. Riwayat Personal


Riwayat Obat-Obatan Dan Suplemen Yang Dikonsumsi
·    Obat-obatan yang digunakan baik berdasarkan resep dokter maupun obat bebas, yang berkaitan dengan masalah gizi
·    Suplemen gizi yang dikonsumsi




Social Budaya
·    Status social, ekonomi, budaya, kepercayaan, agama
·    Situasi rumah
·    Dukungan pelayanan kesehatan dan social
·    Hubungan social



Riwayat Penyakit
·    Keluhan utama terkait dengan masalah gizi
·    Riwayat penyakit dahulu dan sekarang
·    Riwayat pembedahan
·    Penyakit kronis atau resiko komplikasi
·    Riwayat penyakit keluarga
·    Status kesehatan mental/emosi
·    Kemampuan kognitif misalnya pasien stroke

Data Umum
·    Umur
·    Pekerjaan
·    Peranan dalam keluarga tingkat pendidikan

b)                  Penelusuran Masalah Gizi
Masalah gizi timbul bila terjadi ketidak sesuaian antara asupan energy dan zat gizi dibandingkan dengan kebutuhan tubuh yang digunakan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan fungsi spesifik lainnya. Ketidak sesuaian di atas dapat terjadi karena asupan energy dan zat gizi yang kurang atau lebih dari kebutuhan yang meningkat. Hal tersebut erat kaitannya dengan kondisi penyakit, fungsi organ, motorik, perilaku, social ekonomi dan lingkungan.
Kondisi ketidaksesuaian energy dan zat gizi dengna kebutuhannya yang berlangsung lama akan menyebabkan perubahan status gizi. Perubahan status gizi yang terjadi dapat terdeteksi dengan menggunakan komponen pengkajian gizi meliputi riwayat gizi, biokimia, pemeriksaan dan prosedur medis, pengukuran antropometri, pemeriksaan fisik dan klinis, riwayat personal.

c)                  Proses metabolisme
Pada orang sehat yang berada pad lingkungan dengan ketersediaan makanan yang memadai, asupan zat gizi akan sesuai dengan kebutuhan tubuh, sehingga berbagai mekanisme homeostastis tubuhnya (seperti rasa lapar dan kenyang) akan bekerja dengan baik.
Zat gizi tersebut akan dicerna dan diabsorbsi oleh saluran kemudian masuk ke dalam peredaran darah. Selanjutnya hormone insulin dan glucagon mengatur metabolism zat gizi saat makan atau selama proses puasa, sebagian zat gizi tersebut akan dimetabolisme di organ hati. System kardiovaskular akan mendistribusikannya ke seluruh tubuh, di mana setiap sel akanmelakukan proses anabolisme dan katabolisme agar fungsi setiap sel berlangsung dengan normal.
Produk akhir metabolisme seperti CO2 untuk metabolism karbohidrat dan lemak harus dikeluarkan oleh system pernapasan (paru). Nitrogen, urea, kreatinin dari metabolism protein diekskresikan melalui ginjal. Produk panas akibat proses metabolisme dikeluarkan melalui penguapan air (insensible water loss) di kulit.
Proses metabolism pada orang sakit tentunya akan berbeda dengan orang sehat, tergantung dari kondisi penyakit dan fungsi organ mana yang terganggu.
d)              Matriks pengkajian gizi
Untuk membantu identifikasi kemungkinan diagnosis gizi berdasarkan data-data yang terkumpul, ADA menyusun matriks pengkajian gizi. Matriks ini berupa kumpulan data-data (parameter) yang tersusun berdasarkan 5 kelompok pengkajian gizi yaitu :
Riwayat gizi, biokimia, pemeriksaan dan prosedur medis, antropometri, pemeriksaan fisik dan klinis, serta riwayat personal pasien, yang masing-masing dikaitkan dengan domain.
Kemungkinan-kemungkinan masalah yang didapat dari parameter yang terkumpul kemudian dianalisa kembali hubungan parameter satu dengan yang lain berikut masalah gizinya, sehingga akan didapat masalah gizi yang paling tepat. Perlu diingat bahwa masalah gizi tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu parameter saja.

3.                  Diagnosa Gizi
Diagnosa gizi adalah kegiatan mengidentifikasikan dan memberikan nama masalah gizi yang actual atau berisiko menyebabkan masalah gizi yang mmDiagnosa gizi adalah kegiatan mengidentifikasikan dan memberikan nama masalah gizi yang actual atau berisiko menyebabkan masalah gizi yang mmupakan tanggung jawab kdietesien untuk menanganinya secara mandiri. Diagnose gizi diuraikan atas komponen masalah gizi (problem), penyebab masalah (etiologi) serta tanda dan gejala (signs dan symptomps).
Diagnose gizi berbeda dengan diagnose medis baik dari sifatnya maupun cara penulisannya. Diagnose gizi dapat dirubah sesuai dengan respon pasien. Khususnya terhadap intervensi gizi yang dilakukan.


Komponen Diagnose Gizi
a)                  Problem
Menggambarkan masalah gizi pasien/klien di mana dietesien bertanggung jawab untuk memcahkannya secara mandiri. Berdasarkan masalah tersebut dapat dibuat :
·                     Tujuan dan target intervensi yang lebih realistis, terkur
·                     Menetapkan prioritas intervensi gizi
Memantau dan mengevaluasi perubahan yang terjadi setelah dilakukan intervensi gizi.

b)   Etiologi
Menunjukan factor penyebab atau factor-faktor yang mempunyai kontribusi terjadinya problem (P). factor penyebab dapat berkaitan dengan psikologi, social, lingkungan, perilaku dan sebagainya. Mengingat banyaknya factor yang berkaitan dengan masalah gizi tersebut maka penetapan etiologi harus dilakukan secara hati-hati dan sebaiknya secara tim. Dengan demikian dapat diketahui factor penyebab yang paling utama.
Etiologi ini merupakan dasar dari penentuan intervensi apa yang akan dilakukan.

c)                  Signs/symtoms
Merupakan pernyataan yang menggambarkan besarnya atau kegawatan kondisi pasien/klien. Signs umumnya merupakan data objektif sementara symptoms atau gejala merupakan data subjektif. Data-data tersebut diambil dari hasil pengkajian gizi yang dilakukan sebelumnya. Signs dan symptoms inni merupakan dasar untuk monitoring dan evaluasi hasil.
Contoh-Contoh Penulisan Diagnose Gizi
·                     Domain asupan
ü    Zat bioaktif
Kelbihan intake alcohol (P)  berkaitan denan kecanduan alcohol (E) ditandai dengan asupan alcohol 12 0z perhari (S)

·                     Domain klinis
ü    Fungsional : gangguan menelan (P) berkaitan dengan stroke (E) yang dibuktikan dengan memuntahkan kembali makanan yang dimakan (S)
ü    Biokimia : perubahan fungsi gastrointestinal (P) berkaitan dengan kurangnya motifasi (E) ditandai dengan sikap menolak terhadap informasi gizi/pengetahuan (S).


4.                  Terrapin Gizi
Unntuk mencapai serta memlihara kesehata dan status gizi optimal, tubuh perlu mengkonsumsi makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi yang seimbang.
Bila tubuh dapat mencerna, mengabsorbsi dan memetabolisme zat-zat tersebut secara baik, makan akan tercapai keadaan gizi seimbang . tetapi dalam keadaan sakit melalui modifikasi diet diupayakan agar gizi seimbang bisa dicapai.
Gizi seimbang tersebut dapat dicapai dengan memperhatikan pedoman umum gizi seimbang (PUGS).


Pedoman Umum Gizi Seimbang
Pedoman umum gizi seimbang (PUGS) adalah pedoman dasar tentang gizi seimbang yang disusun sebagai penuntun perilaku konsumsi makanan di masyarakat secara baik dan benar.
            PUGS digambarkan dalam logo tersebut bahan makanan dikelompokan berdasarkan 3 fungsi utama zat gizi yhaitu :

a)                  Sumber energy atau tenaga
Padi-padian seperti serelia atau beras, jagung dan gandum, sagu umbi-umbian eperti ubi, singkong dan talas serta hasil olahannya seperti tepung-tepungan, mie roti, makroni, dan bihun.

b)                  Sumber protein
Protein hewani seperti daging, telur dan susu, serta protein nabati seperti kacang-kacangan berupa kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijnau, tahu, susu, kedelai, dan oncom.

c)                  Sumber zat pengatur
berpa sayuran dan buah, sayuran diutamakan yanga berwarna hijau dan kuning jingga, seperti bayam, daun singkong, daun katuk, kangkung wortel, dan tomat serta sayuran kacang-kacangan seperti kacang panjang, buncis, dan kecipir. Buah-buahan yang diutamakan terutama yang berwarna kuning jingga, dan berasa asam, seperti papaya mangga, nenas, nangka masak, jambu biji, apel, sirsak dan jeruk.




Gambar 3. Piramida Makanan Menurut PUGS
piramid makanan.png 






Pada penderita gastritis, diberikan terapi gizi melalui pemberian diet khusus yang dilakukan dengan memperhatikan jenis diet, tujuan diet serta syarat diet untuk mencapai kesembuhan yang diharapkan tidak menjamin pasien untuk tetap mempertahankan kesehatannya apabila pasien tidak memiliki pengetahuan tentang pola hidup sehat.
Berkaitan dengan itu dalam melakukan intervensi, pasien perlu diberikan informasi gizi melalui pelayanan edukasi gizi untuk merubah perilaku pasien ke arah perubahan yang mendorong tercapainya kaidah-kaidah atau norma hidup sehat. Perubahan meliputi pengatahuan, sikap dan ketrampilan sehingga kaidah-kaidah atau norma kesehatan yang dianut dapat diterapkan dalam kkehidupan sehari-hari.

Secara khusus edukasi gizi bertujuan
a)                  Membantu individu, keluarga dan masyarakat, agar dapat berperilaku positif sehubungan dengan pangan dan gizi.
b)                  Meningkakan kesadaran gizi masyarakat melalui peningkatan pengetahuan gizi dan makanan yang menyehatkan.
c)                  Merubah perilaku konsumsi makanan (food consumtion behavior) yang sesuai dengan tingkat kebutuhan gizi, guna mencapai status gizi yang baik
d)                 Menyebarkan konsep-konsep baru tentang informasi gizi kepada masyarakat
Tujuan akhirnya adalah keluarga sadar gizi, di mana setiap keluarga mempunyai kemampuan atau pengetahuan dasar tentang gizi yaitu :
·                     Mampu mengetahui fungsi makanan
·                     Mampu menyusun menu makanan sehari
·                     Mampu mengkombinasikan beberapa jenis makanan
·                     Mampu mengolah dan memilih makanan
·                     Mampu menilai kesehatan yang berhubungan dengan makanan.

5.                  Monitoring Evaluasi

a)                  Monitor
dikerjakan terhadap parameter status gizi yang akan mangalami perubahan akibat implementasi dari intervensi medic maupun gizi yang dikerjakan. Kemampuan memonitor data-data meliputi :
·                     Parameter gizi : pengetahuan gizi, intake, status gizi
·                     Parameter klinik dan penyait : nilai laboratorium, tekanan darah, berat badan, keluhan dan gejal, status klinik pasien, infeksi, implikasi, dll
·                     Parameter pasien : kepuasan, kualitas hidup, kemampuan merawat diri.
·                     Parameter penggunaan fasilitas perawatan : lemahnya dirawat di rumah sakit (length of stay), dll.

b)                  Evaluasi
Dikerjakan dengan membandingkan parameter-parameter yang dimonitor sebelum dan sesudah intervensi dan dengan nilai standar yang direkomnedasikan. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan untuk melihat apakah intervensi yang dikerjakan sudah mencapai sasaran atau tidak serta kemampuan melakukan modifikasi atau perubahan dari rencana intervensi gizi.
Hasil onitoring gizi dan evaluasi diatur dalam empat domain : hasil dari gizi yang berhubungan dengan perilaku dan lingkungan, hasil dari makanan dan asupan gizi, hasil dari gizi yang berhubungan dengan tanda dan gejala fisik, dan hasil dari gizi yang berhubungan dengan pemusatan pada pasien atau klien.
Selam langkah ini, praktisi dietetic memantau kemajuan klien/pasien dengan menentukan apakah intervensi gizi itu mengubah atau tidak perilaku dan gizi pasien atau status kesehatan. Praktisi dietetic mengukur hasil yang sesuai dengan memilih indikatro hasil pengasuhan gizi dan membandingkannya dengan temuan status sebelumnya, tujuan intervensi gizi, dan reverensi standar. Penggunaan indicator standard an peningkatan criteria yang valid serta reabiitas dari hasil pengumpulan data dan koleksi fasilitas elektronik mereka seperti charting, coding, dan hasil pengukuran.

B.                 Tinjauan Umum Tentang Gastritis

1.                  Devinisi
Gastritis adalah peradangan pada lapisan mukosa lambung.
Klasidikasi :

a)                  Gastritis gastropasi
Keluhan umum pada gastritis gastropasi antara laun :
·                     Nyeri pada ulu hati
·                     Mual
·                     Munta
·                     Diare
·                     gastritis spesifik
keluhan umum pada gastritis spesifik, antara lain :
·                     nyeri pada ulu hati (anoreksia)
·                     mual
·                     muntah

b)                  gastritis kronis
keluhan pada gastritis kronis pada umumnya tidak spesifik, berupa :
·                     perasaan tidak enak pada ulu hati, yang terkadang disertai mual muntah.
·                     Perasaan penuh di ulu hati

2.                  Etiologi
Penyebab utama dari gastritis adalah :
a)                  Infeksi
Infeksi pada gastritis disebabkan oleh :
·                     Bakteri H. pylori
·                     Bakteri lainnya atau mycobakteria
·                     Virus

b)                  iritasi
iritasi Pada gastritis dapat disebabkan oleh banyak hal seperti :
·                     obat-obatan
·                     minuman beralkohol mengkonsumsi makanan yang mengakibatkan produksi asam lambung
·                     sekresi asam lambung yang berlebihan
·                     muntah kronis atau menahun
·                     menelan racun

c)                  reaksi autoimun

3.                  Pathogenesis
ada bebrapa factor yang dapat menyebabkan kerusakan mukos lambung yaitu:
kerusakan mukosa barier sehingga difusi baik ion H meninggi, Perfusi mukosa lambung yang terganggu, jumlah asam lambung.
Factor-faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Misalnya stress fisik akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infrak kecil. Disamping itu, sekresi asam lambung juga terpacu. Mukosa barrier pada pada penderita stress fisis biasanya tidak terganggu. Hal inilah yang membedakannya dengan gastritis erosive karena bahan kimia atau obat. Pada gastritis refluks, gastritis karena bahan kimia, obat, Mukosa Barrier  rusak sehingga disfusi balik ion H meninggi.
Suasana asam yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat kerusakan Mucosa Barrier oleh cairan usus.
Pada umumnya pathogenesis gastritis kronis belum diketahui. Gastritis kronis sering dijumpai bersama-sama dengan penyakit lain, misalnya anemia, penyakit Addison dan gondok.
Beberapa peneliti menghubungkan gastritis kronik fundus dengan proses immonologi. Hal ini didasarkan pada kenyataan kira-kira 60% serum pendertia gastritis kronik fundus mempunyai antibody terhadap sel parietalnya. Gastritis kronik antrum-pilorus biasanya dihubungkan dengan refluks usus-lambung.
4.                  Patofisiologi

a)                  Gastritis akut
Adanya zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiritasi mukosa lambung. Jika mukosa lambung teriritasi maka ada 2 hal yang mungkin terjadi :
Karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasinya lambung akan meningkatkan sekresi mukosa yang berupa HCO3. Di lambung HCO3 akan diberikan denan NaCl sehingga menghasilkan HCl dan NaCO3. Hasil dair persenyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam lambung meningkat maka akan menimbulkan rasa mual muntah yang mengakibat pada gangguan nutrisi cairan dan elektrolit.
Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mucus yang dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCl maka akan terjadi hemostastis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi mucus gagal melindungi mucus lambung, maka yang akan terjadi adalah erosi pada mukosa lambung. Jika erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi perdarahan yang akan menyebabkan nyeri pda hypovolemik

b)                  Gastritis kronik
Gastritis kronik dapat diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan altrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seerti anemia permisiosa dan terjadi pada fundus rpus dari lambung. Tipe B kadang disebut dengan gastritis H. pylory mempengaruhi antrum dan , pylorus. Gastritis kronik dihubungkan dengan bakteri H. pylori  factor diet seperti minuman panas atau pedas, penggunaan alcohol dan obat-obatan, merokok atau refluks isi usus ke dalam lambung.

5.                  Gejala Dan Tanda

·                     Tidak nyaman sampai nyeri pada saluran pencernaan terutama bagian atas
·                     Mual
·                     Muntah
·                     Nyeri ulu hati
·                     Lambung merasa penuh
·                     Kembung
·                     Bersendawa
·                     Cepat kenyang
·                     Perut keroncongan (borbogygmi)
·                     Sering kentut
·                     Rasa terbakar di lambung dan akan semakain parah ketika sedang makan.
·                     Kehilangan nafsu makan berat badan menurun
·                     Merasa lambung sangat penuh ketika sehabis makan

Gejala ini bisa menjadi akut, berulang, dan kronis. Disebut kronis bila gejala itu berlangung lebih dari satu bulan terus menerus.


6.                  Gambaran Lab
Apabila diperlukan dapat dilakukan pembedahan darurat untuk mengangkat gangrene atu jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau reseksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus. Lakukan pemeriksaan sinar-x gastrointestinal H. pylori dan tes pernapasan.

7.                  Diagnosis
Gastritis didiagnosa melalui satu atau lebih test kesehatan sebagai berikut :
·                     Endoskopi gastrointestinal bagian atas
Dokter melihat melalui kamera khusus, alatnya dimasukkan melalui mulut sampai lambung untuk melihat kerusakan lambung dan mengecek ada tidaknya infamasi. Selanjutnya melakukan biopsy mengambil sampel untuk ditest.

·                     Test Darah
Untuk keperluan dokter guna mengecek sel darah merah pasien apakah menderita anemia. Anameia dapat sebagai sebab dari adanya perdarahan pada lambung

·                     Test Stool
Test ini mengecek apakah ada darah pada stool/ tinja/ stool juga dapat untuk mengecek keberadaan H. pylori pada saluran alat pencernaan.

8.                  Terapi Medis
Pengobatan sakit maag atu gastritis tergantung penyebabnya.
Gastritis akut yang disebabkan oleh NASAIDs atau alcohol, pengobatanya akan berbeda dengan gastritis kronis yang harus diobati dengan anti bakteri. Asam lambung yang berlebihan dapat mengiritasi dan mengakibatkan peradangan pada lambung.
Karena itulah jika berlebihan produksinya harus ditekan dengan berbagai macam obat. Umumnya pengobatan dilakukan dengan obat-obatan yang dapat menetralkan asam lambung seperti :

·                     Antacid
·                     Cimetidin (tagament)
·                     Ranatidin (zantac)
·                     Nizatidin (axid) atau famotidin (pepsid

BAB III
PEMBAHASAN


A.                Kajian Gizi Pada Penderita Gastritis

1.                  Riwayat Gizi/Makanan
Selain dari infeksi bakteri H. pylori penyakit gastritis juga disebabkan oleh riwayat gizi salah dari pasien yang disebabkan karena kebiasaan pasien dalam memilih makanan yang tidak aman bagi saluran pencernaan yaitu kelebihan mengkonsumsi sumber makanan yang berserat, berasa asam dan gas tinggi dan juga asupan minuman beralkohol dan zat bioaktif lainnya serta mengkonsumsi obatobatan yang berlebihan sehingga dapat mengakibatkan iritasi pada lambung.

2.                  Pengukuran Antropometri
Dari riwayat gizi pasien dapat dilihat jelas setelah dilakukan intervensi pada pasien seperti pengukuruna antropometri yang ditunjukan pada nilai IMT 17,71 kg.m2 (status gizi kurang/underweight) karena gangguan metabolism pada organ pencernaan pasien yang mengurangi daya cerna terhadap makanan atau zat gizi.

B.                 Diagnosa gizi
merupakan langkah penting antar pengkajian gizi dan intervensi gizi dengan kegiatan mengidentifikasikan dan memberikan nama masalah gizi secara konsisten sehingga menjadi jelas.
Berikut ini merupakan diagnose gizi terhadap pasien dengan penyakit gastritis.

Tabel 3. Diagnose gizi

MASALAH
DIAGNOSA GIZI

ETIOLOGI
SIGNS/
SYMPTOMS
Keluhan Utama
Mual, muntah, pusing, nyeri ulu hati
NC-1.4
perubahan fungsi gastrointestinal
Disebabkanan karena peningkaatan asam lambung
Dapat ditandai dengan mual, muntah, pusing, nyeri ulu hati
Status Gizi Menurut IMT
status gizi kurang.

NC-3.1
Berat badan kurang
Disebabkan karena asupan oral kurang
Dapat ditandai dengan
IMT : 17.71
Data  Laboratorium
Kadar leukosit dan laju endap darah (LED)↑
NC-2.2
Perubahan nilai laboratorium terkait fungsi gastrointestinal 
Disebabkan karena iritasi pada lambung akibat infeksi bakteri H. pylori.
Dapat ditandai dengan
Leukosit : 15 ribu/ml.
LED : 21 mm
Riwayat Gizi Dahulu
Sikap, perilaku dan kebiasaan salah terhadap gizi.
NB-1.4
Kurangnya kemampuan memonitor diri sendiri
Disebabkan karena kurang focus/kurang perhatian terhadap informasi, kesulitan mengatur waktu/control diri.
 Dapat ditantadi dengan riwayat gizi dahulu yang salah

C.                Terapi diet pada penderita gastritis

1.                  Jenis Diet
Diet lambung 1

2.                  Tujuan diet
Untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung serta mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan.

3.                  Syarat Diet

a)                  Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan
b)                  Energy dan protein cukup, sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya
c)                  Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total yang ditingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan
d)                 Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.
e)                  Cairan cukup, terutama bila ada muntah
f)                   Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan)
g)                  Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa : umumnya  tidak dianjurkan minum susu terlalu banyak. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk member istirahat pada lam


4.                  Bahan Makanan Yang Dianjurkan Dan Tidak Dianjurkan

Tabel 4. Bahan Makanan Yang Dianjurkan Dan Tidak Dianjurkan


BAHAN MAKANAN

DIANJURKAN

TIDAK DIANJURKAN
Sumber karbohidrat
Beras dibubur/ditim; kentang dipure; makroni direbus; roti dipanggang; biscuit, krekers; mi, bihun, tepung-tepungan dibuat bubur/ pudding.
Beras ketan, beras tumbuk, roti, jagung ; ubi, singkong, talas, cake, dodol, dan berbagai kue yang terlalu manis.
Sumber protein hewani
Daging sapi empuk, hati, ikan ayam digiling atau dicincang dan, direbus, didadar, ditim, diceplok air.
Daging, ikan, ayam yang diawet, digoreng; daging babi; telur diceplok atau digoreng
Sumber protein nabatai
Tahu, tempe direbus, ditim, ditumis; kacang hijau direbus, dan dihaluskan
Tahu, tempe digoreng; kacang tanah, kacng merah, kacng tolo.
Sayuran
Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas dimasak : bayam, bit labu siam, labu kuning, wortel, tomat direbus, dan ditumis.
Sayuran mentah, sayuran berserat tinggi dan menimbulkan gas seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi, dan asparagus.
Buah-buahan
Papaya, pisang, sawo, jeruk manis, sari buah dan pir.
Bauh-buahan tinggi serat dan dapat menimbulkan gas  seperti jambu biji, nanas, apel, kedondong, durian, nangka; buah yang dikeringkan.
Lemak
Margarine, minyak, santan encer.
Lemak hewani, santan kental.
Minuman
Sirup, the encer.
Kopi, teh kental, minuman yang mengandung soda, dan alcohol, ice cream.
Bumbu
Gula, garam, vetsin, kunci, kencur, jahe, kunyit, laos, salam, sereh.
Lobak, bawang, merica, cuka,, dan sebagainya yang tajam.

D.                Monitoring Evaluasi

1.                  Anamnesis Gizi Pasien Selama Intervensi Gizi di RS
Tabel 5. Anamnesis Gizi Pasien Selama Intervensi Gizi di RS

HARI

KALORI(kkal)

PROTEIN (gr)

LEMAK (gr)

KH (gr)

RECAL MENU
I
790.26
35.8
39.3
73.9
II
820.04
42.525
32.4
94.5
III
1021.3
67.43
29.6
122
JUMLAH
2631.6
145.775
101.3
290.4
RATA-RATA
877.2
48.585
33.76
96.82
KEBUTUHAN
2559.31
159.95
42.65
383.89
% ASUPAN
34.27%
30.37%
79.15%
25.21%


2.                  Perkembangan Diet Pasien
Setelah tilakukan pemantauan selama 3 hari terahadap asupan makan pasien dari diit yang diberikan rumah sakit ternyata ada perkembangan yang dicapai pasien yaitu denan total energy 790.26 kkal dari hari pertama, mengalami peningkatan pada hari ke-2 dengan total energy 820.04 kkal hingga terus memuncak perkembangannya di hari ke-3 yaitu 1021.3 kkal. Dengan demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa frekuensi makan pasien mulai meningkat untuk menuju pada energy yang diharapkan bersasarkan standar kebutuhan pasien pada perencanaan menu yaitu 2559.31 kkal.

3.                  Perkembangan Hasil Hasil Pemeriksaan Fisik Dan Klinis Pasien
Tabel 6. Perkembangan Hasil Pemeriksaan Fisik Dan Klinis Pasien di RS
Tanggal
KU
BAB
BAK
Tensi
Nadi
RR
Sushu
6/2/12
Lemah
2 hari
1x
Lancar
120/80
mmHg
80x/m
20 x/ m
36.40C
7/2/12
Baik
2 hari
2x
Lancar
120/80
mmHg
80x/m
20 x/ m
36.40C
8/2/12
Baik
1 hari
1x
Lancar
120/80
mmHg
80x/m
20 x/ m
36.40C

Pemantauan hasil pemeriksaan fisik klinis pasien selama 3 hari berturut ditemukan ada perkembangan pada KU (keadaan umum), dan BAB (buang air besar) pasien. Sedangkan BAK (buang air kecil)tetap lancer dan , Tensi, Nadi, Pernapasan, Serta Suhu pasien juaga masih tetap pada nilai normalnya.


4.                  Perkembangan Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 7. Perkembangan Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal
Nama
Hasil
NN
Satuan

6/2/12
Leukosit
LED
15
21

Leukosit :
5-10

Ribu/ml


7/2/12
Leukosit
LED
13
19


LED :
< 15

mm

8/2/12
Leukosit
LED
11
17

           
Pemeriksaan laboratorium dari hari pertama sampai pada hari ke-3 diperoleh perkembangan nilai lab yang mengarah pada nilai normalnya.

5.                  Perkembangan Data Antropometri
Tabel 8.  Perkembangan Data Antropometri
Tanggal
IMT
BB
6/2/12
17.7 (underweigh)
50 kg
7/2/12
17.7 (underweigh)
50 kg
8/2/12
17.7 (underweigh)
50 kg

Belum Ada Perkembangan Pada Berat Badan Pasien Dan Status Gizinya



E.                 Kasus
Tn. M dating dan dirawat di rumah sakit pada tanggal 2 januari 2012 dengan keluhan mual, muntah, pusing dan nyeri pada ulu hati dialami sejak 3 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit.  Dari hasil pemeriksaan terhadap pasien menunjukan bahwa pasien menderita penyakit gastritis dengan nilai pemeriksaan laboratorium : leukosit = <15 ribu/ml dan LED =21 mm
















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.                Kesimpulan

1.                  Kajian gizi
Dari hasil wawancara terhadap pasien tentang riwayat gizi dahulu dan berdasarkan penyakit yang dideritanya serta diperkuat pula dengan diagnosis gizi NB-3.1 dan NI-1.4 dapat disimpulankan bahwa pasien mempunyai kebiasaan dan pola makan yang salah.

2.                  Diagnosa gizi
Diagnosa gizi pada pasien dengan penyakit gastritis adalah :
NB-3.1 : Intake of unsafe food
NI-1.4 : Inadequate energy intake
NC-1.4 : Perubahan fungsi gastrointestinal

3.                  Terapi diet
Berdasarkan penyakit yang diderita oleh pasien maka diberikan terapi diet lambung 1 dengan konsistensi makanan lunak, mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan.


4.                  Monitoring - Evaluasi
Dari hasil perkembangan diet dan perkembangan pemeriksaan fisik / klinis serata perkembangan pemeriksaan labolatorium, disimpilkan bahwa selama menjalani perawatan di rumah sakit, pasien mendapat suatu perubahan yang mengarah pada kesembuhannya walaupun belum mencapai target yang diharapkan.

B.                 Saran

1.                  Kajian gizi
Diharapkan kepada pasien dan keluarganya untuk menerima atau mentaati informasi gizi yang disampaikan oleh petugas gizi sehingga dapat merubah kebiasaan dan riwayat pola makan yang salah dimasa lalunya.

2.                  Diagnosa gizi
Berdasarkan diagnosa gizi yang telah ditentukan maka diharapkan pasien memahaminya dengan jadikan suatu pelajaran berharga yang memotifasi pasien untuk merubah sikap dan tindakan yang salah terhadap gizi dimasa lalu.

3.                  Terapi diet
Dalam pemberian diet sebaiknya terus menerus diberikan motifasi dan penyuluhan atau konsultasi gizi dan juga di harapkan kepada pasien dan keluarganya untuk dapat mentaati diet yang diberikan.


4.                  Monitoring - Evaluasi
Diharapkan kerja sama antara tim rumah sakit perlu ditingkatkan dan terus memantau  perkembangan keadaan pasien  dengan berbagai intervensi yang sudah dilakukan.


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar